Tampilkan postingan dengan label agrokomplek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agrokomplek. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Oktober 2012

Budidaya Sengon Dengan Produk Nasa

|0 komentar




Tanaman sengon di kenal mempunyai daya adaptasi yanag luas serta pertumbuhan yang cepat
Penanaman yang cukup intensif dari beberapa petani sengon  di kendal dan Temanggung jawa tengah memberikan gambaran yang lebih jelas tentang prediksi keuntungan yang akan di capai dalam kurun waktu 5-7 tahun ke depan.
Aplikasi produk NASA(SUPER NASA,POC NASA, HORMONIK) yang TERBUKTI mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia cukup banyak,dapat menghasilkan rata-rata pertumbuhan diameter batang 11-14cm dengan rata-rata lingkar batang antara 48-53 serta tinggi tanaman sudah mencapai10-14m,sangat berbeda jauh dengan tanaman yang tidak menggunakan produk nasa yang hanya mencapai diameter batang 6-8 cm dan lingkar batang maksimal 21-38 cm dan tinggi 7-9m dengan umur tanaman 12-16 bulan semenjak tanam.


Tehnik Budidaya Sengon Nasa Dapat Dilakukan sbb:
1. Waktu Tanam : awal musim penghujan.
2. Persiapan Bibit (bibit beli jadi / diluar pembenihan sendiri)
a. Bibit berumur diatas 3 bulan, disiapkan.
b. Disemprot 2 minggu sekali, selama 1 bulan pertama:
dosis 4 tutup POC NASA + 1 tutup Hormonik per tangki (16-18liter).
3. Persiapan Lahan
a. Pengajiran
- Ajir dibuat dari bambu tinggi 50 – 100 cm, lebar 1 – 1,5 cm
- Pasang ajir induk sebagai patokan dalam pengajiran selanjutnya
- Untuk meluruskan ajir gunakan tali (2m) sehingga diperoleh jarak tanam yang sama (2×2) meter.
b. Pembuatan lobang tanam.
2500 lobang tanam dibuat masing-masing dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm tepat pada ajir yang sudah terpasang.
c. Pemberian pupuk dasar
Pupuk diberikan pada dasar lubang, secukupnya, didiamkan 1minggu baru bibit ditanam diatasnya.
Dosis campuran pupuk dasar per 10 lubang (diencerkan dalam 10 liter air) :
- Super NASA : 1 sendok makan (diperes/diratakan) sekitar 3-4gram.
- POC NASA : 4 tutup botol
- Hormonik : 1 tutup botol
Jadi 1 lubang = 1 liter campuran.
Setelah 1 lubang disiram 1 liter campuran, tutup tanah sedikit.
d. Pemberian pupuk lanjutan
Dosis 1 tanaman = 1 liter campuran diatas dapat diberikan 2-3kali dalam setahun.
2 tahun pertama setiap 3-4 bulan, tanaman disemprot:
dosis 4 tutup POC NASA + 1 tutup Hormonik per tangki (16-18liter).
4. Perawatan
a. Penyulaman : jika ada tanaman yang mati.
b. Pemotongan cabang (diatas 10 cm dari batang pohon), jika batang utama bercabang dua dipilih cabang yang gemuk, yg kurus dipotong.

5. Pengendali Hama Organik NASA ( PESTONA )
PESTONA Merupakan pilihan jika ada tanda2 serangan hama tanaman baru disemprotkan,
dosis 8 tutup per tangki (16-18 liter).

Jumat, 04 November 2011

GLIO ( agen hayati untuk jamur )

|0 komentar

MENGAPA MENGGUNAKAN GLIO ?
1. Mampu menghancurkan inokulum sumber infeksi penyakit tanaman.
2. Mencegah sumber infeksi penyakit menyebar kembali dengan kolonisasi tanah oleh GLIO.
3. Mampu melindungi perkecambahan biji dan akar-akar tanaman dari sumber infeksi penyakit.
4. Aman terhadap lingkungan, manusia dan hewan.
5. Selaras dengan keseimbangan alam, mudah dan murah.

SASARAN

Cabai, Tomat, Kubis, Terong, Bawang merah, Bawang daun, Semangka, Melon, dll.
PATHOGEN / Sumber Infeksi Penyakit Fungsi/sasaran utama :
-Rebah semai (Phytium sp. Rizoctonia sp.)
-Penyakit Layu (Fusarium sp. Pseudomonas sp.)

Fungsi/sasaran lainnya :
-Penyakit Antraknosa (Colletrotichum sp. Gloeosporium sp.)
-Akar Gada/Bengkak (Plasmodiphora sp.)


Sebagaimana kita ketahui bersama serta baiknya mesti tahu bahwa pengendalian hama dengan biologi atau pengenda­lian hayati memperoleh perhatian yang cukup besar didunia pertanian. Berkaitan hal ini diantaranya dikarenakan oleh kesadar­an penduduk yang makin tinggi dapat bahayanya dampak samping penggu­naan pestisida kimia baik pada ma­nusia ataupun lingkungan. Efek ne­gatif pemakaian pestisida yang kurang bijaksana dapat menyebabkan resistensi hama, resurgensi hama, timbulnya hama ke-2, terbunuhnya jasad bukan hanya tujuan ( musuh alami, residu pestisida serta pencemaran lingkungan. kecen­derungan penduduk untuk nikmati hasil – hasil pertanian yang bebas residu pestisida makin meningkat. di sam­ping kebijaksanaan pemerintah didalam pengendalian dengan sistem pengelo­laan hama terpadu ( pht ) cocok uu no. 12 th. 1992 juga mendorong untuk berikan peluang peran yang besar pada pengendalian hayati.

Di antara agens hayati yang dapat dipakai sebagai pengendalian hayati atau biologi yaitu jamur entomopatogenik ( jamur yang mengonsumsi hama ) serta jamur antagonis ( jamur yang mengonsumsi jamur ) ada sebagian alasan kenapa jamur entomopatogenik serta jamur antagonis banyak jadi pilihan untuk pengendalian hama penyakit daripada organisme lain. salah satunya jamur entomopatogenik serta jamur antagonis memiliki kapasitas reproduksi yang tinggi, siklus hidupnya pendek, bisa membentuk spora yang bisa bertahan lama di alam, apalagi didalam situasi yang tidak beruntung walaupun. selain itu relatif safe, berbentuk selektif, cocok dengan beragam insektisida, relatif gampang diproduksi, kemungkinan menyebabkan resistensi amat kecil. disamping itu, di sebagian negara maju sudah dipakai dengan teratur serta meluas, contohnya rusia sudah memakai beauveria bassiana untuk mengendalikan penggerek umbi kentang, colarado potato beetle ( laspeyresia pomonella ).

Kesuksesan pemakaian jamur en­tomopatogenik serta jamur antagonis di lapangan amat di pengaruhi oleh factor lingkungan ( suhu, kelembapan ), jumlah spora ( terhitung viabilitas serta virulen­sinya ) yang disemprotkan, hingga kemungkinan spora hingga tujuan cukup banyak. di samping itu butuh di­ketahui biologi hama atau daur hidupnya supaya waktu penyemprotan bisa lebih pas. juga waktu penyemprotan mesti betul-betul pas, maksudnya tidak di­semprotkan pada saat matahari terik, baiknya aplikasinya pada saat men­dung atau sore hari.

Natural Glio


Viabilitas ( daya hidup ) spora jamur entomopatogenik serta jamur antagonis di­pengaruhi oleh factor suhu, kelembapan, ph, radiasi cahaya matahari serta senyawa kimia layaknya nutrisi serta pestisida. perihal ini mutlak untuk dipelajari, karena syarat satu patogen sukses baik dipakai sebagai agensia pengendali hama yakni mesti mempunyai viabilitas serta virulensi ( daya bunuh ) yang terus terpelihara atau tinggi.