Tampilkan postingan dengan label info agro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info agro. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Januari 2013

AKSI GANDA MENANGGULANGI HAMA DAN PENYAKIT PADA PADI

|0 komentar
 AKSI GANDA MENANGGULANGI HAMA DAN PENYAKIT PADA PADI

Pada penyemprotan masal di lahan padi di daerah manisrenggo , klaten, jawa tengah beberapa waktu banyak lalu mengingatkan pada kita bahwa ternyata pada budidaya padi saat ini mulai banyak serangan mulai hama atau penyakitnya. Wabah ini bisa wereng yang meluas hampir di seputaran jawa bahkan sampai diluar jawa, juga walangsangit yang lain sundep, beluk juga mengintai petani sewaktu waktu. Petani juga dihadapkan pada persoalan yang lain lagi adanya penyakit potong leher, becak bergaris atau penyakit yang disebabkan oleh jamur atau bakteri lainnya.Beragamnya berbagai pestisida dan fungisida yang beredar di lapangan cukup membuat petani bingung untuk memilih yang terbaik bagi tanamannya. Pemakaian yang tidak sesuai takaran, pencampuran yang tidak melihat dosis anjuran, penyemprotan yang tidak sesuai standar, disamping itu harga yang lumayan tinggi menjadikan proses pengendalian dan pencegahan hama dan penyakit terkesan asal dan yang Perlakuan pestisida dan fungisida yang kurang bijaksana itu sendiri mengakibatkan hama, jamur dan bakteri makin kebal, makin sulit dikendalikan akibatnya biaya yang dikeluarkan sang petani pun bertambah dan margin keuntungan yang akan didapat jelas akan berkurang seiring dengan pembelian berbagai obat pengendali ini.


PT NATURAL NUSANTARA memberikan solusi jitu dengan sekali semprot membantu petani mencegah dan mengendalikan hama dan penyakit pada padi. Sejak jaman dahulu orang mulai bercocok tanam padi sebelum ada pestisida maka Gliocladium sp dan Beuveria bassiana memang sudah banyak dilahan kita untuk membantu mencegah dan mengendalikan hama dan penyakit, namun semenjak hadirnya pestisida dan fungisida maka jamur teman petani ini juga ikut musnah.Dari berbagai kendala yang ada ternyata sudah banyak cara yang dipakai petani namun yang terjadi seperti sekarang ini, wabah, berbagai kasus yang lain. Kembalilah ke semula, kembalilah ke dasar pengendalian bahwa alam ini diciptakan dalam bentuk keseimbangan. Dengan menganut hukum ini maka kasus dan wabah diharapkan sudah mulai berkurang dan tidak ada lagi.

Apa itu NATURAL GLIO ? jamur Gliocladium sp dan Trichoderma dengan kandungan 10 pangkat 15 spora/gramnya mampu mencegah dan mengendalikan jamur jamur yang disebabkan oleh jamur ditanah seperti penyakit potong leher atau blast yang disebabkan oleh Pyricularia grisea, hawar daun atau kresek disebabkan Xanthomonas campestris pv Oryzae Dye, bercak daun Cercocspora, dll.
Apa itu NATURAL BVR ? adalah jamur Beuveria bassiana, dengan kandungan 10 pangkat 10 spora per gram nya mampu mencegah sundep beluk, wereng, walangsangit dan hama lainnya dengan tidak mematikan musuh alaminya.Jadi , dengan sekali semprot, maka hama dan penyakit pada padi serta merta tercegah dan terkendali, dengan didukung sertifikasi serta kualitas yang tidak perlu diragukan maka pemakaian NATURAL GLIO dan NATURAL BVR sangat dianjurkan bagi petani.NATURAL GLIO dan NATURAL BVR adalah produk berkualitas dari PT NATURAL NUSANTARA.



lokasi foto: manis renggo,klaten jawa tengah









.

VERTIKULTURE TEKNOLOGI PERTANIAN MASA DEPAN

|0 komentar

VERTIKULTURE TEKNOLOGI PERTANIAN MASA DEPAN

Vertikultur diambil dari istilah verticulture dalam bahasa lnggris (vertical dan culture) artinya sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Cara bercocok tanam secara vertikultur ini sebenarnya sama saja dengan bercocok tanam di kebun atau di sawah. Perbedaannya terletak pada lahan yang digunakan. Misalnya, lahan 1 meter mungkin hanya bisa untuk menanam 5 batang tanaman. Dengan sistem vertikal bisa untuk 20 batang tanaman. Banyak sedikitnya tanaman yang akan kita budidayakan bergantung pada model wadah yang kita gunakan.

Untuk tanaman yang memerlukan banyak sinar matahari, seperti cabai, tomat, terong, dan sawi hendaknya diletakkan di posisi bagian atas. Sedangkan tanaman ginseng, kangkung, dan seledri bisa di bagian tengah atau bawah.

Sistem vertikultur ini sangat cocok diterapkan bagi petani atau perorangan yang mempunyai lahan sempit, namun ingin menanam tanaman sebanyak-banyaknya. Selain tanaman sayuran, kita bisa juga menanam tanaman hias.

Sungguh beruntung negara kita yang berada di garis khatulistiwa dan hanya memiliki 2 musim yaitu musim kemarau dan penghujan. Sinar matahari yang melimpah sebagai energi alam terbesar bersinar sepanjang tahun memungkinkan kita memiliki potensi pertanian (agrokompleks) yang hebat. N amun sayang potensi besar tersebut seringkali tak tergarap, meskipun sangat memungkinkan.

Manusia sering berpikir bahwa bertani / bertanam haruslah tersedia lahan yang luas, padahal alih fungsi lahan seolah tak terhentikan seiring laju pertumbuhan penduduk yang menurunkan potensi produksi pangan hingga 15-20%. Sehingga dibutuhkan suatu teknologi yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap lahan. Salah satunya adalah teknologi vertikultur yaitu teknologi bertani secara vertikal (ke atas) dengan memanfaatkan energi surya di lahan yang terbatas.

Secara prinsip, banyak tanaman yang bisa dibudidayakan dengan sistem ini, namun pada umumnya hanya beberapa jenis tanaman saja terutama hortikultura dan sayuran yang dapat dipanen dalam waktu yang relatif singkat. Untuk skala yang lebih luas bisa dipilih komoditas dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi, sedangkan untuk skala keluarga bisa dipilih tanaman sayuran beberapa jenis untuk sekedar memenuhi kebutuhan sayuran rumah tangga, seperti kangkung darat, sawi, selada, bawang daun, seledri, atau hortikultura jenis cabai, terung, tomat dan lain sebagainya. Teknologi vertikultur berprinsip memanfaatkan cahaya matahari di lahan terbatas, dengan media yang bisa dimodifikasi sesuai dengan jenis tanamannya ataupun kemudahan mendapatkan bahan media, dengan support teknologi nutrisi dari luar media tersebut untuk mencukupi pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya tersebut.

Salah satu teknologi yang memungkinkan vertikultur mampu mensubsidi minimal untuk kebutuhan pangan keluarga adalah teknologi organik NASA yang penggunaannya sangat sederhana dan telah terbukti mampu meningkatkan produktifitas banyak tanaman budidaya, baik tanaman hias, semusim, maupun perkebunan. Dengan komposisi campuran media tanah : pupuk (bahan organik): pasir yaitu 2 : 1 : 1 

pemupukan dasar SUPERNASA 1 sendok makan per 5-10 liter air untuk dikocorkan secukupnya di media setelah tanam dan rutin setiap 1 minggu sekali, 
Di tambah penyemprotan POC NASA 2 tutup dan HORMONIK 0,5 tutup per tangki disemprotkan 1-2 hari sekali dan dikocorkan 3 hari sekali. Kebutuhan air untuk vertikultur relatif cukup besar karena sifat gravitasi air sehingga mudah turun ke bawah sehingga media menjadi kering. Untuk itu perlu dilakukan penyiraman terus menerus dengan drip atau dipantau beberapa jam sekali untuk diairi agar tanaman tidak kekurangan air/ dehidrasi.

Pengendalian hama lalat buah menggunakan perangkap Metilat lem, sedangkan untuk mencegah dan menanggulangi serangan kutu-kutuan ataupun ulat daun bisa kita gunakan Pestona, Pentana atau kombinasi keduanya 2 hari sekali, yang diselingi sesekali BVR . Dengan aplikasi dosis yang tepat, waktu dan jenis (termasuk pupuk NPK) jika dibutuhkan niscaya kita akan mampu mencukupi kebutuhan sayuran keluarga untuk sehari -hari yang terjamin sehat dan ramah lingkungan, minimal mampu mengurangi budget belanja harian. Dan jika itu terjadi insyaallah kita akan tersadar bahwa benar Tuhan Maha Kaya dan menyayangi bangsa Indonesia….hanya saja muncul pertanyaan lain kapan kesadaran itu datang sehingga kita bersyukur dan memanfaatkan segala pemberian Nya…


Minggu, 27 Januari 2013

Tomcat Predator Yang Membantu Petani

|0 komentar

Tomcat adalah serangga dari genus Paederus yang hidup di tanah dan lebih suka tempat yang lembab. Daerah persawahan merupakan habitat favorit serangga ini karena lembab dan terdapat banyak makanan yang berupa wereng coklat. Jadi, sebenarnya tomcat itu merupakan musuh alami hama wereng. Pada akhir musim hujan atau pada saat panen, padi diambil sehingga akan mengurangi populasi wereng. Hal ini tentunya akan mengganggu habitat tomcat karena makanannya berkurang.

Ketika akhir musim hujan, tomcat sudah dalam keadaan dewasa atau imago. Serangga ini akan terbang mencari makanan ke tempatlain ketika terganggu habitanya. Tomcat yang merupakan spesies serangga kumbang akan terbang untuk menemukan habitat baru. Tomcat tidak benar-benar menyengat dan menggigit. Namun, ketika terganggu, serangga ini akan mengeluarkan racun bernama paederin. Cairan ini menyebabkan kulit melepuh dan mengalami gatal-gatal. Cairan bisa keluar jika serangga ini dipencet.

Mangrove merupakan salah satu daerah habitat serangga tomcat karena lembab. Jika terganggu, serangga ini bisa terbang ke daerah sekitar dan menyerang. Jika hutan mangrove telah rusak, maka serangga ini akan terbang ke daerah lain untuk menemukan sebuah lingkungan baru.

Tomcat memiliki kepala hitam dan dada dan perut, oranye. Ukuran sekitar 1 cm dengan sayap yang tidak menutupi seluruh abdomen tomcat.Jika tomcat menempel di kulit, maka tidak perlu memukulnya. Serangga ini cukup disingkirkan dengan meniup atau menggunakan kertas. Jangan memencetnya karena racun paederinnya bisa keluar dan membuat kulit seperti melepuh.
 
semoga bermanfaat,,
salam Nasa

PREDATOR HAMA

|0 komentar



PREDATOR

Ini bukan judul film yang telah banyak ditonton masyarakat di layar lebar atau di stasiun tv, ini adalah hewan pemangsa hama. Apa peran dan kegunaannya di dunia Entomologi dan dunia pertanian, mari sejenak kita simak.

Predator, dalam arti sederhana, predator hama adalah organisme pemangsa hama ( perusak tanaman). Umumnya yang dimangsa adalah hewan yang lebih kecil atau lebih lemah dari dirinya. Binatang yang ditangkap dan dimakan predator ini disebut mangsa. Mangsa predator antara lain serangga hama. Predator hama termasuk kelompok serangga tungau, laba laba, burung ular kucing dan binatang buas lainnya. Hal ini mengingatkan kita pada kejadian outbreak TOMCAT, yang menyerang pemukiman penduduk dan menyebabkan gatal gatal pada kulit, binatang ini termasuk predator untuk hama wereng.
Predator merupakan mata rantai ekosistem dan berfungsi melangsungkan aliran energy sehingga keberadaanya menentukan kestabilan ekosistem. Kondisi ekosistem tanaman yang stabilmerupakan kondisi yang selaras, serasi, seimbang dan harmoni ditandai dengan diversivitas biota yang tinggi dan hama terkendali. 
Keunggulan predator antara lain, terletak pada kemampuan mencari dan menemukan serta merespons populasi hama. Predator mampu menemukan hama pada tempat tempat yang tersembunyi dan yang sulit terpapar atau tersemprot racun kontak atau pestisida hayati dan atau yang tidak dapat dijangkau oleh manusia. Ketika jamur dan bakteri patogen tidak efektif mengendalikan hama pada musim kemarau yang kering, predator tetap aktif mencari mangsa yang eksplosi dan banyak pada musim kering seperti bangsa kutu, wereng dan tungau.
Dampak revolusi hijau, semenjak kebutuhan hidup manusia dipenuhi dari hasil mengusahakan dan memelihara sumberdaya alam antara lain pertanian yang intensif dan ekstensif paling tidak di negeri kita memberi dampak yang luar biasa dan signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk dunia, namun hal ini juga diikuti konsekuensi negative yang luar biasa.
Kualitas tanah yang menurun akibat jenuh dengan pemakaian pupuk kimia dan pestisida kimia yang mengganggu keseimbangan biologis tanah.Lingkungan rusak parah karena eksploitasi sumberdaya alam yang tidak bijaksana serta adanya pencemaran lingkungan.
Biotipe baru hama muncul akibat penggunaan varietas unggul tahan hama.Resistensi dan resurjensi hama timbul akibat aplikasi insektisida kimia yang tidak bijaksana. Semestinya hama yang disemprot menjadi terkendali malah sebaliknya menjadi eksplosi.Tanaman monokultur sangat rentan terhadap serangan hama dan dapat meningkatkan status ekonomi hama. Sebagai contoh hama kutu wereng dan tungau.
Dampak revolusi hijau, semenjak kebutuhan hidup manusia dipenuhi dari hasil mengusahakan dan memelihara sumberdaya alam antara lain pertanian yang intensif dan ekstensif paling tidak di negeri kita memberi dampak yang luar biasa dan signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk dunia, namun hal ini juga diikuti konsekuensi negative yang luar biasa.
Kualitas tanah yang menurun akibat jenuh dengan pemakaian pupuk kimia dan pestisida kimia yang mengganggu keseimbangan biologis tanah.Lingkungan rusak parah karena eksploitasi sumberdaya alam yang tidak bijaksana serta adanya pencemaran lingkungan.
Biotipe baru hama muncul akibat penggunaan varietas unggul tahan hama.Resistensi dan resurjensi hama timbul akibat aplikasi insektisida kimia yang tidak bijaksana. Semestinya hama yang disemprot menjadi terkendali malah sebaliknya menjadi eksplosi.Tanaman monokultur sangat rentan terhadap serangan hama dan dapat meningkatkan status ekonomi hama. Sebagai contoh hama kutu perisai jenis Aulacapsis tegalensis yang sebelumnya  tidak pernah dilaporkan sebagai hama penting pada perkebunan tebu.
Dari berbagai hal tersebut alangkah indahnya untuk mengendalikan dan memelihara sang predator yang berfungsi mengendalikan hama hama di sekitar pertanaman kita, dengan cara pemakaian pestisida yang bijaksana dan alangkah baiknya jika kita mengendalikan hama namun tidak mematikan sang predator tersebut karena terbukti akan membantu dan mengendalikan hama.

Pemakaian BVR Beveria bassiana  mampu mengendalikan 6 ordo yang berisi ribuan spesies hama, dan sang predator akan terselamatkan karena tidak mengganggu kehidupan predator. Demikian juga pemakaian Pestona, PENTANA, pestisida alami ini terbukti mampu menekan perkembangan hama. Jika kita ingin membuatnya sendiri dari bahan bahan alami disekitar kitapun juga cukup mudah, namun jika ingin praktis dan mudah  bisa gunakan pestisida hayati dan pestisida alami dari PT NATURAL NUSANTARA. Dan jika ingin menambah bahan bahan pestisida alami lain yang ada di sekitar kita pada produk pestisida alami NASA, maka bahan tersebut dapat dicampurkan saat penyemprotan dilapangan. ( dari berbagai sumber)

Jumat, 25 Januari 2013

Budidaya Tomat Nasa

|0 komentar
tomatpupuknasa3Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksi Tomat baik kuantitas dan kualitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tanah yang keras, miskin unsur hara mikro serta hormon, pemupukan tidak berimbang, serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, serta teknis budidaya petani
PT. Natural Nusantara berupaya membantu petani dalam peningkatan produksi secara Kuantitas dan Kualitas dengan tetap memelihara Kelestarian lingkungan (Aspek K-3), agar petani dapat berkompetisi di era perdagangan bebas.
A. FASE PRA TANAM
1. Syarat Tumbuh>
- Tomat dapat ditanam di dataran rendah/dataran tinggi
- Tanahnya gembur, porus dan subur, tanah liat yang sedikit mengandung pasir dan pH antara 5 - 6
- Curah hujan 750-1250 mm/tahun, curah hujan yang tinggi dapat me
nghambat persarian.
- Kelembaban relatif yang tinggi sekitar 25% akan merangsang pertumbuhan tanaman yang masih muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui stomata yang membuka lebih banyak, tetapi juga akan merangsang mikroorganisme pengganggu tanaman dan ini berbahaya bagi tanaman
2. Pola Tanam
- Tanaman yang dianjurkan adalah jagung, padi, sorghum, kubis dan kacang-kacangan
- Dianjurkan tanam sistem tumpang sari atau tanaman sela untuk memberikan keadaan yang kurang disukai oleh organisme jasad pengganggu
3. Penyiapan Lahan
- Pilih lahan gembur dan subur yang sebelumnya tidak ditanami tomat, cabai, terong, tembakau dan kentang .
- Untuk mengurangi nematoda dalam tanah genangilah tanah dengan air selama dua minggu
- Bila pH rendah berikanlah kapur dolomite 150 kg/1000 m2 dan disebar serta diaduk rata pada umur 2-3 minggu sebelum tanam
- Buatlah bedengan selebar 120-160 cm untuk barisan ganda dan 40-50 cm untuk barisan tunggal
- Buatlah parit selebar 20-30 cm diantara bedengan dengan kedalaman 30 cm untuk pembuangan air.
- Berikan pupuk dasar 4 kg Urea /ZA + 7,5 kg TSP + 4 kg KCl per 1000 m2 diatas bedengan, aduk dan ratakan dengan tanah
- Atau jika pakai Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg / 1000 m2 dicampur rata dengan tanah di atas bedengan.
- Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata diatas bedengan dosis 1-2 botol/1000 m2. Hasil akan lebih bagus jika diganti SUPER NASA (dosis ± 1-2 botol/1000 m2 ) dengan cara :
- alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
- alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan
- Sebarkan Natural GLIO 1-2 sachet yang telah dicampur pupuk kandang (+ 1 minggu) merata di atas bedengan pada sore hari
- Jika pakai Mulsa plastik, tutup bedengan pada siang hari
- Biarkan selama 5-7 hari sebelum tanam
- Buat lubang tanam dengan jarak 60 x 80 cm atau 60 x 50 cm di atas bedengan, diameter 7-8 cm sedalam 15 cm
4. Pemilihan Bibit
- Pilih varietas tahan dan jenis Hybryda ( F1 Hybryd )
- Bibit berdaun 5-6 helai daun (25-30 HSS=hari setelah semai) pindahkan ke lapangan
- Untuk mengurangi stress awal pertumbuhan perlu disiram dulu pada sore sehari sebelum tanam atau pagi harinya (agar lembab)
B. FASE PERSEMAIAN (0-30 HSS)
- Siapkan media tanam yang merupakan campuran tanah dan pupuk kandang 25 - 30 kg + Natural GLIO (1:1)
- Masukkan dalam polibag plastik atau contongan daun pisang atau kelapa
- Sebarlah benih secara merata atau masukkan satu per satu dalam polibag
- Setelah benih berumur 8-10 hari , pilih bibit yang baik, tegar dan sehat dipindahkan dalam bumbunan daun pisang atau dikepeli yang berisi campuran media tanam
- Penyiraman dilakukan setiap hari (lihat kondisi tanah)
- Penyemprotan POC NASA pada umur 10 dan 17 hari dengan dosis 2 tutup/tangki
C. FASE TANAM ( 0-15 HST=Hari Setelah Tanam )
- Bedengan sehari sebelumnya diairi ( dilep ) dahulu
- Bibit siap tanam umur 3 - 4 minggu, berdaun 5-6
- Penanaman sore hari
- Buka polibag plastik
- Benamkan bibit secara dangkal pada batas pangkal batang dan ditimbun dengan tanah di sekitarnya
- Selesai penanaman langsung disiram dengan POC NASA dengan dosis 2-3 tutup per + 15 liter air
- Sulam tanaman yang mati sampai berumur 2 minggu, caranya tanaman yang telah mati, rusak, layu atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru, dibersihkan dan diberi Natural GLIO lalu bibit ditanam
- Pengairan dilakukan tiap hari sampai tomat tumbuh normal (Jawa : lilir), hati-hati jangan sampai berlebihan karena tanaman bisa tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit
- Amati hama seperti ulat tanah dan ulat grayak. Jika ada serangan semprot dengan Natural VITURA
- Amati penyakit seperti penyakit layu Fusarium atau bakteri dan busuk daun , kendalikan dengan menyemprot Natural GLIO dicampur gula pasir perbandingan 1:1. Untuk penyakit Virus, kendalikan vektornya seperti Thrips, kutu kebul (Bemissia tabaci), banci ( Aphis sp.), Kutu persik (Myzus sp.) dan tungau (Tetranichus sp.) dengan menyemprot Natural BVR atau Pestona secara bergantian
- Pasang ajir sedini mungkin supaya akar tidak rusak tertusuk ajir dengan jarak 10-20 cm dari batang tomat
D. FASE VEGETATIF ( 15-30 HST)
- Jika tanpa mulsa, penyiangan dan pembubunan pada umur 28 HST bersamaan penggemburan dan pemberian pupuk susulan diikuti pengguludan tanaman
- Setelah tanaman hidup sekitar 1 minggu semenjak tanam, diberi pupuk Urea dan KCl dengan perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman (1-2 gram), berikan di sekeliling tanaman pada jarak ± 3 cm dari batang tanaman tomat kemudian ditutup tanah dan siram dengan air
- Pemupukan kedua dilakukan umur 2-3 minggu sesudah tanam berupa campuran Urea dan KCl (± 5 gr), berikan di sekeliling batang tanaman sejauh ± 5 cm dan sedalam ± 1 cm kemudian ditutup tanah dan siram dengan air.
- Bila umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur dapat dipupuk Urea dan KCl lagi (7 gram). Jarak pemupukan dari batang dibuat makin jauh ( ± 7 cm).
- Jika pakai Mulsa tidak perlu penyiangan dan pembubunan serta pupuk susulan diberikan dengan cara dikocorkan
- Penyiraman dilakukan pada pagi atau sore hari
- Amati hama dan penyakit seperti ulat, kutu-kutuan, penyakit layu dan virus, jika terjadi serangan kendalikan seperti pada fase tanam
- Semprotkan POC NASA (4-5 tutup) per tangki atau POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) setiap 7 hari sekali.
- Tanaman yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir dan setiap bertambah tinggi + 20 cm harus diikat lagi agar batang tomat berdiri tegak.
- Pengikatan jangan terlalu erat dengan model angka 8, sehingga tidak terjadi gesekan antara batang dengan ajir yang dapat menimbulkan luka.
tomat pupuknasa1
menggunakan nasa
menggunakan nasa








E. FASE GENERATIF (30 - 80 HST)
1. Pengelolaan Tanaman
- Jika tanpa mulsa penyiangan dan pembubunan kedua dilakukan umur 45-50 hari
- Untuk merangsang pembungaan pada umur 32 HST lakukan perempelan tunas-tunas tidak produktif setiap 5-7 hari sekali, sehingga tinggal 1-3 cabang utama / tanaman
- Perempelan sebaiknya pagi hari agar luka bekas rempelan cepat kering dengan cara; ujung tunas dipegang dengan tangan bersih lalu digerakkan ke kanan-kiri sampai tunas putus. Tunas yang terlanjur menjadi cabang besar harus dipotong dengan pisau atau gunting, sedangkan tanaman yang tingginya terbatas perempelan harus hati-hati agar tunas terakhir tidak ikut dirempel sehingga tanaman tidak terlalu pendek
- Ketinggian tanaman dapat dibatasi dengan memotong ujung tanaman apabila jumlah dompolan buah mencapai 5-7 buah
- Semprotkan POC NASA dan HORMONIK setiap 7-10 hari sekali dengan dosis 3-4 tutup POC NASA dan 1-2 tutup HORMONIK/tangki. - Agar tidak mudah hilang oleh air hujan dan merata tambahkan Perekat Perata AERO 810 dengan dosis 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki.
2. Pengamatan Hama dan Penyakit
- Ulat buah (Helicoperva armigera dan Heliothis sp.). Gejala buah berlubang dan kotoran menumpuk dalam buah yang terserang. Lakukan pengumpulan dan pemusnahan buah tomat terserang, semprot dengan PESTONA
- Lalat buah (Brachtocera atau Dacus sp.).Gejala buah busuk karena terserang jamur dan bila buah dibelah akan kelihatan larva berwarna putih. - - Bersifat agravator, yaitu sebagai vektornya penyakit jamur, bakteri dan Drosophilla sp. Kumpulkan dan bakar buah terserang, gunakan perangkap lalat buah jantan (dapat dicampur insektisida)
- Busuk daun (Phytopthora infestans), bercak daun dan buah (Alternaria solani) serta busuk buah antraknose (Colletotrichum coccodes). Jika ada serangan semprot dengan Natural GLIO
- Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami (PESTONA, GLIO, VITURA) belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
- Busuk ujung buah. Ujung buah tampak lingkaran hitam dan busuk. Ini gejala kekurangan Ca ( Calsium). Berikan Dolomit.
F. FASE PANEN & PASCA PANEN (80 - 130 HST)
- Panen pada umur 90-100 HST dengan ciri; kulit buah berubah dari warna hijau menjadi kekuning-kuningan, bagian tepi daun tua mengering, batang menguning, pada pagi atau sore hari disaat cuaca cerah. Buah dipuntir hingga tangkai buah terputus. Pemuntiran buah dilakukan satu-persatu dan dipilih buah yang siap petik. Masukkan keranjang dan letakkan di tempat yang teduh
- Interval pemetikan 2-3 hari sekali.
- Supaya tahan lama, tidak cepat busuk dan tidak mudah memar, buah tomat yang akan dikonsumsi segar dipanen setengah matang
- Wadah yang baik untuk pengangkutan adalah peti-peti kayu dengan papan bercelah dan jangan dibanting
- Waspadai penyakit busuk buah Antraknose, kumpulkan dan musnahkan
- Buah tomat yang telah dipetik, dibersihkan, disortasi dan di packing lalu diangkut siap untuk konsumsi.